Keperawatan Medikal Bedah (KMB)

1. Diabetes Melitus

Diabetes melitus merupakan salah satu penyakit kronis yang memerlukan  penatalaksanaan jangka panjang. Kondisi-kondisi pada penyakit kronis menuntut klien untuk beradaptasi terhadap perubahan-perubahan tersebut agar tidak terjadi komplikasi.

1.1. Pengertian

Berikut ini adalah berbagai definisi tentang diabetes melitus yang dikemukakan oleh para pakar, antara lain :

  • Diabetes melitus adalah suatu kumpulan gejala yang timbul pada seseorang yang disebabkan adanya peningkatan kadar glukosa darah secara terus menerus (kronis) akibat kekurangan insulin baik kuantitatif maupun kualitatif (Penyakit Degeneratif, 2005).
  • Dalam buku Pedoman Pemeriksaan Laboratorium untuk Penyakit diabetes melitus 2005, dijelaskan bahwa diabetes melitus adalah suatu kelainan metabolisme kronik yang terjadi karena berbagai penyebab, ditandai oleh konsentrasi glukosa darah melebihi normal disertai dengan gangguan metabolisme karbohidrat, lemak, dan protein yang diakibatkan oleh kelainan sekresi hormon insulin, kelainan kerja insulin atau keduanya.
  • Diabetes melitus merupakan kelompok kelainan metabolik yang ditandai
    dengan adanya hiperglikemik kronik akibat defisiensi insulin baik relatif maupun absolut. Keberadaan diabetes dalam klinik dapat berupa komponen metabolik dan komponen vaskuler atau angiopati. Kedua komponen ini dapat tampak bersama, atau yang satu mendahului yang lain, yang satu memperberat yang lain (Asdie,2000).

1. 2. Klasifikasi

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengakui dua bentuk diabetes melitus, yaitu diabetes melitus tipe 1, dan diabetes melitus tipe 2.

  1. Tipe I : Diabetes mellitus tergantung insulin (IDDM)
  2. Tipe II : Diabetes mellitus tidak tergantung insulin (NIDDM)

1. Diabetes mellitus tipe 1

Diabetes mellitus tipe 1, atau yang disebut insulin-dependent diabetes (IDDM, diabetes yang bergantung pada insulin”), dicirikan dengan hilangnya sel beta penghasil insulin pada pulau-pulau langerhans pankreas sehingga terjadi kekurangan insulin pada tubuh. Penyebab terbanyak dari kehilangan sel beta pada diabetes tipe 1 adalah kesalahan reaksi autoimunitas yang menghancurkan sel beta pankreas. Reaksi autoimunitas tersebut dapat dipicu oleh adanya infeksi pada tubuh.

2. Diabetes mellitus tipe 2

Diabetes mellitus tipe 2, atau yang disebut non-insulin-dependent diabetes mellitus (NIDDM, “diabetes yang tidak bergantung pada insulin”). Terjadi karena kombinasi dari kecacatan dalam produksi insulin dan  resistensi terhadap insulin atau berkurangnya sensitifitas terhadap insulin (adanya defek respon jaringan terhadap insulin) yang melibatkan reseptor insulin di membran sel. Pada tahap awal abnormalitas yang paling utama adalah berkurangnya sensitifitas terhadap insulin, yang ditandai dengan meningkatnya kadar insulin di dalam darah.

1.3. Etiologi

1.3.1. Diabetes melitus tipe 1

Diabetes melitus tipe 1 ditandai oleh penghancuran sel-sel beta pankreas. Kombinasi faktor genetik, imunologi, dan dapat pula lingkungan (misalnya infeksi virus) diperkirakan turut menimbulkan destruksi sel beta.

a. Faktor Genetik

Penderita diabetes tidak mewarisi diabetes tipe 1 itu sendiri; tetapi, mewarisi suatu predisposisi atau kecenderungan genetik ke arah terjadinya diabetes tipe 1. Kecenderungan genetik ini ditemukan pada individu yang memiliki tipe antigen HLA (human leococyte antigen) tertentu.. HLA merupakan kumpulan gen yang bertanggung jawab atas antigen transplantasi dan proses imun lainnya.

b. Faktor Imunologi

Pada diabetes tipe 1 terdapat bukti adanya suatu respon autoimun. Respon ini merupakan respon abnormal dimana antibodi terarah pada jaringan normal tubuh dengan cara bereaksi terhadap jaringan tersebut yang dianggapnya seolah-olah sebagai jaringan asing.

c. Faktor Lingkungan

Faktor-faktor ekstetrnal juga dapat memicu  destruksi sel beta. Sebagai contoh, hasil penyelidikan yang menyatakan bahwa virus atau toksin tertentu dapat memicu proses otoimun yang menimbulkan destruksi sel beta.

1.3.2. Diabetes melitus tipe 2

Mekanisme yang tepat yang menyebabkan resistensi insulin dan gangguan sekresi insulin pada diabetes tipe 2 masih belum diketahui. Faktor genetik diperkirakan memegang peranan dalam proses terjadinya resistensi insulin. Selain itu terdapat pula faktor-faktor risiko tertentu yang berhubungan dengan proses terjadinya diabetes tipe 2. Faktor-faktor ini adalah: Usia (resistensi insulin cenderung meningkat pada usia di atas 65 tahun), Obesitas, Riwayat keluarga, Kelompok etnik.

1.4. Patofisiologi Diabetes Melitus

Hormon insulin dihasilkan sel beta di kelenjar pankreas. Dalam keadan normal, bila ada rangsangan pada sel beta, insulin disintesis dan disekresikan ke dalam darah sesuai kebutuhan tubuh untuk keperluan regulasi glukosa darah. Salah satu komponen utama yang memberikan rangsangan pada sel beta untuk memproduksi insulin karena adanya peningkatan kadar glukosa darah (Manaf dalam sudoyo, et al. 2006).

1.4.1 Diabetes melitus tipe 1

Terjadi defisiensi insulin yang dihasilkan oleh sel beta pankreas, karena adanya reaksi autoimun yang disebabkan adanya peradangan pada sel beta insulitis. Hal ini menyebabkan timbulnya anti bodi terhadap sel beta yang disebut ICA (Islet Cel Antibody). Reaksi antigen (sel beta) dengan antibodi (ICA) yang ditimbulkan dapat menyebabakan hancurnya sel beta. Insulitis dapat disebabakan  oleh beberapa hal, diantaranya: virus, seperti virus rubella, herpes dan lain-lain.

1.4.2 Diabetes melitus tipe 2

Pada diabetes melitus tipe 2 sel beta pankreas tetap memproduksi insulin bahkan lebih dari kadar normal, tetapi jumlah reseptor insulin yang terdapat pada permukaan sel yang berkurang. Hal ini dapat menyebabkan glukosa yang masuk kedalam sel akan berkurang, sehingga sel akan kekurangan bahan bakar (glukosa) dan glukosa didalam pembuluh darah akan meningkat.

1.5. Manifestasi klinis

Adanya penyakit diabetes melitus pada awalnya sering tidak dirasakan dan tidak disadari oleh klien. Beberapa keluhan dan gejala yang perlu mendapat perhatian adalah:

1. Keluhan klasik

a. Poliuri

Jika kadar gula darah meningkat, maka glukosa akan dikeluarkan melalui air kemih. Jika kadarnya lebih tinggi lagi, ginjal akan membuang air tambahan untuk mengencerkan sejumlah besar glukosa yang hilang. Karena ginjal menghasilakan air kemih dalam jumlah yang belebih, maka klien sering berkemih dalam jumlah yang banyak.

b. Polidipsi

Rasa haus sering dialami oleh penderita karena banyaknya cairan yang keluar melalui air kemih. Untuk menghilangkan rasa haus tersebut klien banyak minum.

c. Penurunan berat badan dan rasa lemah

Penurunan berat badan berlangsung dalam waktu yang relative singkat. Hal ini disebabkan karena sejumlah besar kalori hilang ke dalam air kemih. Juga disebabkan karena glukosa dalam darah tidak dapat masuk ke dalam sel, sehingga sel kekurangan bahan bakar untuk menghasilkan tenaga. Untuk kelangsungan hidup, sumber tenaga terpaksa diambil dari cadangan lain yaitu sel lemak dan otot. Akibatnya, klien kehilangan jaringan lemak dan otot sehingga menjadi kurus.

d. Polifagi

Klien  sering kali merasa lapar yang luar biasa karena kalori dari makanan yang dimakan, setelah dimetabolisasikan menjadi glukosa dalam darah tidak seluruhnya dapat dimanfaatkan, serta akibat dari sejumlah besar kalori telah hilang kedalam air kemih. Untuk mengkompensasikan hal ini klien banyak makan.

2. Gejala/keluhan lain

  1. gangguan saraf tepi / kesemutan

penderita mengeluh rasa sakit atau kesemutan terutama pada kaki di waktu malam, sehingga mengganggu tidur.

  1. Ganguan penglihatan

Gangguan penglihatan pada klien diabetes sering dijumpai pada fase awal.

  1. Gatal atau bisul

Kelainan kulit berupa gatal, biasanya terjadi pada daerah kemaluan atau daerah lipatan kulit seperti ketiak dan di bawah payudara. Sering pula dikeluhkan timbulnya bisul dan luka yang lama sembuhnya.

  1. Gangguan ereksi
  2. Keputihan
  3. Pusing
  4. Mual dan berkurangnya ketahanan tubuh

1.6. Penatalaksanaan diabetes melitus

Tujuan utama pengelolaan atau penatalaksanaan diabetes mellitus adalah pengendalian peningkatan kadar glukosa darah dengan harapan timbulnya komplikasi dapat dicegah atau diperlambat (Waspadji, 2003). Empat pilar utama dalam pengelolaan diabetes mellitus menurut Konsensus Nasional 1998 (PERKENI, 1998) adalah: perencanaan makan, latihan jasmani, penyuluhan, dan obat berkhasiat hipoglikemik.

1.6.1. Perencanaan makan

Prinisp perencanan makan adalah melakukan pengaturan pola makan yang didasarkan pada status gizi diabetes dan melakukan modifikasi diet dengan memperhatikan gaya hidup, pola kebiasaan makan, status ekonomi dan lingkungan. Diabetes harus dapat melakukan perubahan pola makan secara konsisten. Salah satu manfaat pengaturan makan adalah untuk meningkatkan sensitifitas reseptor insulin sehingga akhirnya dapat menurunkan kadar glukosa darah, (Soebardi & Yunir dalam Sudoyo, 2006).

1.6.2. Latihan jasmani

Latihan jasmani dianjurkan untuk dilakukan secara teratur (3-5 kali seminggu) selama kurang lebih 30 menit, yang sifatnya sesuai CRIPE (continous, rhythmical, interval, progressive, endurancetraining). Latihan jasmani yang teratur menyababkan kontraksi otot meningkat dan resistensi insulin berkurang, (Ilyasa dalam Soegondo, 2007). Namun klien dengan kadar glukosa darah >250 mg/dL, tidak dianjurkan untuk latihan jasmani karena akan meningkatkan kadar glukosa darah dan benda keton, (Soebardi & Yunir dalam Sudoyo,2006).

Tahap-tahap dalam melakukan latihan jasmani:

  1. Peregangan (stretching)

Dilakukan peregangan pada semua otot tubuh selama lebih kurang 5 menit, untuk mencegah cedera otot.

  1. Pemanasan (warming up)

Dilakukan dalam gerakan lambat selama 5-10 menit, sehingga kecepatan jantung meningkat secara bertahap.

  1. Latihaninti dengan kecepatan penuh (full speed)

Dilakukan dengan irama lebih cepat selama 20-30 menit, bertujuan untuk meningkatkan kerja jantungdan paru-paru.

  1. Pendinginan (cooling down)

Dilakukan dalam tempo lambat selama 5-10 menit, untuk mencegah nyeri atau cedera.

1.6.3.Penyuluhan (edukasi diabetes)

Bila dilihat dari empat pilar pengelolaan diabetes mellitus, tingkat kepatuhan dibetesi dalam mengatur perencanaan makan, pengobatan dan latihan jasmani, intinya adalah bagaimana diabetesi memahami, menyadari, dan dapat mengendalikan kondisi peyakitnya sehingga dapat hidup lebih berkualitas. Untuk mengatasi hal tersebut,sangatlah penting seorang edujator dalam pengelolaan diabetes mellitus. Pada intiny seorang educator memberikan penyuluhan dengan tujuan dapat meningkatkan pengetahuan, mengubah sikap, mengubah perilaku, meningkatkan kepatuhan dan meningkatkan kualitas hidup klien diabetes mellitus.

1.6.4.Obat berkhasiat hipoglikemik

Pada dasarnya pengelolaan diabetes melitus tanpa dekompensasi metabolik dimulai dengan pengaturan makan, disertai dengan kegiatan jasmani yang cukup selama beberapa waktu. Bila setelah itu kadar glukosa darah masih belum dapat memenuhi kadar sasaran metabolik yang diinginkan, klien diberi obat hipoglikemi oral (OHO) atau suntikan insulin sesuai dengan indikasi (PERKENI, 1998). Obat anti hipoglikemi umumnya hanya digunakan untuk mengobati beberapa individu dengan diabetes mellitus  tipe 2. Obat-obatan ini menstimulasi pelepasan insulindari sel beta pankreas atau pengambilan glukosa oleh jaringan perifer (Courtney, 1997).