PERKEMBANGAN KEPERAWATAN DI INDONESIA
Masa pemerintahan Belanda
– prwt berasal dari pddk pribumi (Velpleger) di bantu penjaga orang sakit (Zieken Oppaser)
– bekerja di R.S Binnen Hospital di Jakarta (1799) memelihara kshtan staf & tentara Belanda
– membentuk dinas kesehatan tentara & dinas kesehatan rakyat
Masa VOC (Gubenur Inggris Rafles 1812-1816)
– kesehatan adalah milik manusia melakukan pencacaran umum.
– membenahi cara perawatan pasien dg ggn jiwa.
– memperhatikan kesehatan & perawatan para tahanan.

PERKEMBANGAN ORGANISASI PROFESI KEPERAWATAN
Beberapa organisasi keperawatan
ICN (International Council of Nurses) organisasi profesional wanita pertama di dunia di dirikan tgl 1 Juli 1899 o/ Mrs.Bedford Fenwick.
Tujuannya:
– memperkokoh silaturahmi prwt slrh dunia
– memberi kesempatan bertemu bg prwt di slrh dunia u/ membicarakan mslh keperawatan.
– menjunjung peraturan dlm ICN agar dpt mencapai kemajuan dlm pelayanan, pendidikan keperwtan berdasarkan kode etik profesi keprwtan.
ANA di dirikan th 1800 yg anggotanya dari negara-2 bagian, berperan :
– menetapkan standar praktek keperawatan
– Canadian Nurse Association (CNA) tujuan sama dg ANA memberikan izin praktek kepwtan mandiri
NLN (National League for Nursing) di dirikan th 1952, tujuan u/pengembangan & peningkatan mutu lan-kep & pdkkan keprwtan
British Nurse Association di dirikan th 1887, tujannya:
memperkuat persatuan & kesatuan slrh perawat di Inggris & berusaha memperoleh pengakuan thp profesi keperawatan.
PPNI di dirikan 17 maret 1974

Saat ini sebagian besar pendidikan perawat adalah vokasional (D3 Keperawatan), sebagian kecil yang ners dan spesialis. Bahkan masih ada yang SPK (setingkat SLTA). Rendahnya pendidikan perawat, menjadi penyebab rendahnya kualitas pelayanan keperawatan dan daya saing perawat kita dibandingkan dengan perawat asing. Padahal, jumlah terbesar dari profesional kesehatan adalah perawat.

Rendahnya pendidikan perawat tidak dapat dipisahkan dari sejarah perkembangannya. Perkembangan keperawatan di Indonesia mengadopsi pelayanan keperawatan di Belanda, yakni profesi perawat lahir karena pelayanan kemanusiaan, seperti biarawati. Oleh karena itu, pendidikan keperawatannya kurang berkembang dibandingkan dengan negara-negara Commonwealth.

Di Inggris, pendidikan keperawatan telah berkembang dengan baik melalui perguruan tinggi sejak 1868. Dengan demikian, tatanan profesionalisme dan pelayanan keperawatannya sangat maju.

Di Indonesia, perawat didesain untuk membantu dokter, sehingga peran dan fungsinya bergeser dari pelayanan keperawatan. Hasil penelitian Depkes dan Universitas Indonesia (UI) menunjukkan lebih dari 90% perawat melakukan tugas nonkeperawatan (menetapkan diagnosis penyakit, membuat resep obat, melakukan tindakan pengobatan). Hanya 50% yang melakukan asuhan keperawatan sesuai dengan peran dan fungsinya.

Uji Kompetensi

Di sisi lain, International Council of Nursing (ICN) menuntut seorang perawat yang akan memberikan pelayanan harus melalui sertifikasi dan uji kompetensi untuk memperoleh register nurse (RN). Untuk uji RN, seseorang harus menyelesaikan pendidikan ners. Dengan demikian, secara international standar pendidikan dasar profesi perawat harus pendidikan ners. Perawat yang lulus RN berhak bekerja di semua negara. Saat ini perawat kita sulit masuk ke negara lain karena tidak memiliki RN.

Bila ada perawat kita yang bekerja di negara-negara Timur Tengah, mereka adalah perawat vokasional. Penghargaannya lebih rendah dibandingkan dengan perawat Filipina atau India, yang telah bersertifikasi secara internasional.

Demikian juga regulasi perawat di dalam negeri. Banyak perawat asing yang akan masuk ke Indonesia. Mereka memiliki standar kompetensi yang tinggi dan tanggung jawab moral yang baik. Bila kita tidak mengantisipasi, maka kehadiran mereka dapat menjadi ancaman bagi kita, dan kita akan menjadi tamu di negeri sendiri. Guna mengantisipasi ancaman itu, dibutuhkan sistem penataan pendidikan tinggi keperawatan yang baik.

Alur Pendidikan

Dasar Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) menata jenis dan jenjang pendidikan keperawatan adalah Undang-Undang (UU) 20/2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Untuk menjadi perawat profesional (RN), lulusan SLTA harus menempuh pendidikan akademik S1 Keperawatan dan Profesi Ners. Tetapi bila ingin menjadi perawat vokasional, (primary nurse) dapat mengambil D3 Keperawatan/Akademi Keperawatan.

Lulusan SPK yang masih ingin menjadi perawat harus segera ke D3 atau langsung ke S1 Keperawatan. Selanjutnya, lulusan D3 Keperawatan dapat melanjutkan ke S1 Keperawatan dan Ners. Dari pendidikan S1 dan Ners, baru ke Magister Keperawatan/spesialis dan Doktor/Konsultan. Diharapkan pada 2015, sebagian besar tenaga keperawatan adalah S1 Keperawatan dan Ners. Oleh karena itu, PPNI sangat mengharapkan perawat vokasional meneruskan pendidikannya ke S1 Keperawatan dan Ners.

Pendidikan Profesional

Ada beberapa alasan mengapa tidak ada jenjang D4 Keperawatan? Pertama, tuntutan dan kebutuhan tenaga profesional perawat dalam menghadapi era globalisasi. Perawat adalah profesi, sebagaimana deklarasi dalam lokarkarya nasional 1983. Dasar pendidikannya harus pendidikan profesional.

Kedua, semakin banyak jenis dan jenjang pendidikan perawat vokasional akan menyulitkan pengaturan kompetensinya. Perbedaan kompetensi dan kewenangan antara D3, D4, dan Ners bagaimana? Ketiga, bila akan melanjutkan studi, setelah lulus D4 ke mana? Tidak ada pengaturan transfer pendidikan dari D4 ke S1 Keperawatan.

Banyak lulusan D4 Perawat Pendidik Undip (sekarang sudah ditutup) harus melanjutkan ke S1 Keperawatan dengan D3 Keperawatanya.

Perbedaan pandangan antara elite PPNI yang berhak mengatur jenis dan jenjang pendidikan perawat dengan pemerintah sebagai penyelenggara pendidikan D4 Keperawatan, perlu diselesaikan. PPNI memperjuangkan idealisme dan profesionalisme agar pengakuan dan eksistensi profesi itu meningkat di mata profesi lain dan masyarakat.

Sementara itu, pemerintah memiliki Politeknik Kesehatan (Poltekes) di banyak provinsi yang mewarnai kualitas perawat kita, meskipun keberadaan Poltekes yang dikelola oleh Departemen Kesehatan tersebut bukan lagi sebagai pendidikan kedinasan yang diamanatkan oleh UU.

Perbedaan semakin nyata, ketika ada keinginan bahwa rekrutmen PNS di masa yang akan datang memprioritaskan lulusan D4 Keperawatan. Ke mana mahasiswa S1 Keperawatan setelah lulus? Mungkin itu yang diperjuangkan oleh Aliansi BEM S1 Keperawatan se-Indonesia. Arogansi masing-masing hanya akan memperburuk situasi yang akan memengaruhi pelayanan keperawatan.

Banyak profesi yang telah tumbuh dan berkembang dengan baik. Organisasi profesi mereka mengatur dengan baik profesinya. Sudah selayaknya profesi itu diberi kesempatan untuk berkembang pula menuju tatanan dan norma profesionalisme, agar daya saing SDM Keperawatan mampu berkompetisi dengan profesi lain